Bicara Cinta, Bicara Rumi

Rumi identik dengan puisi-puisi bertema cinta, tapi bukan sekedar cinta biasa. Cinta Rumi adalah tentang cinta Ilahi. Selain soal cinta, tema sentral dalam karya-karya Rumi adalah “melihat ke dalam”. Biasanya kedua tema ini tergabung dalam satu puisi, seperti pada kutipan-kutipan di media sosial, contohnya:

“You have to keep breaking your heart until it opens.”

img_3106Maulana Jalaluddin Rumi, atau yang juga dikenal sebagai Jalaluddin Muhammad Balkhi, lahir di Balkh (wilayah Afghanistan saat ini) pada 30 September 1207. Seperti halnya dengan “Balkhi” yang mengacu pada tempat kelahirannya, “Rumi” mengacu pada Rum, atau Roma, karena beliau bermukim di Konya (Turki saat ini) yang pada waktu itu adalah wilayah Anatolia, Kekaisaran Roma bagian timur.

Karya Rumi diklasifikasikan sebagai puisi Sufi atau Tasawuf, aspek mistis dalam Islam. Aku rasa lebih baik aku tidak membahas tentang Sufi maupun Islam (karena takut salah, hehehe…). Yang menarik buatku adalah tema besar puisi-puisi Rumi yang biasanya aku baca ketika sedang dalam masalah yang melelahkan. Cinta Rumi buatku adalah obat sakit hati (bukan liver), dongkol, stress, marah, atau patah hati.

Ketika dihadapkan dengan masalah, banyak orang yang akan memilih untuk mencari hiburan. Dugem, kongkow, nonton film, jalan-jalan dengan sebanyak mungkin teman… tapi begitu kembali ke rumah, rasa kesepian dan pikiran akan masalah yang sedang dihadapi akan kembali menyergap. Akarnya adalah ketakutan alamiah manusia. Takut sendirian, takut kesepian.

Puisi-puisi Rumi justru menganjurkan untuk kembali pada diri sendiri. Lho, bukannya kalo sorangan wae begitu malah kesepian? Secara kasat mata, iya. Namun jika seseorang berani untuk berintrospeksi dengan penuh kasih sayang, maka dia akan menemukan jawaban atas banyak permasalahan di dalam dirinya.

Rumi adalah penganjur self-love yang ampuh, indah, tidak angkuh menggurui. Mungkin karena tema universal inilah Rumi menjadi bestselling poet di Amerika Serikat, menembus batas bahasa, bangsa, dan agama. Mencintai diri sendiri memang sangat penting, karena dengan itu kita berani menghadapi apapun dan lebih menghargai diri. Yang bisa mencintai dirinya biasanya lebih dicintai dan dihargai orang lain.

Contoh, anak yang tumbuh dalam keluarga abusif sering sulit mencintai dirinya sendiri. Karena terbiasa dengan perlakuan buruk, mereka menganggap wajar jika mereka dianiaya secara fisik maupun verbal. Karena mereka tidak merasa patut dicintai. Mereka mungkin akan sering terjebak dalam hubungan KDRT atau narsisistik, misalnya.

Tuhan Sang Maha Cinta tentu tidak ingin umat-Nya menderita, maka jika ada sesuatu yang terjadi berulang-ulang dan menyakitkan, aku rasa itulah pesan Tuhan yang diberikan supaya kita belajar, mencari jawaban supaya tidak terperosok di masalah yang sama. Hatimu akan terus menerus hancur, sampai dia terbuka. Salaam, semoga kita semua berada dalam cinta dan kedamaian, entah itu Valentine’s Day atau bukan.

 

Illustration from Rumi Oracle deck: “Let Love Transform”. Author: Alana Fairchild; artist: Rassouli.

Advertisements

“Dunia” Michael Jackson

Memori pertamaku tentang Michael Jackson adalah lagu Black or White yang diputar TVRI, satu-satunya stasiun TV yang ada di televisi tua kami saat aku TK, sebelum Berita Malam jam 9 dimulai. Video klip lagu itu tampak eksotis dengan beragam tarian dari penjuru dunia. Ketika aku mulai mengerti bahasa Inggris, arti liriknya semakin membekas di ingatan.

Michael Jackson (MJ) yang fenomenal menuai banyak kontroversi dalam hidupnya. Mungkin, salah satu penyebabnya adalah kesukaannya bermain bagaikan anak kecil dengan anak-anak kecil yang lain, sementara fisiknya adalah fisik dewasa. Tentu, orang akan menilai hal ini tidak wajar.

Dalam wawancara pertamanya dengan Oprah Winfrey (1993), setelah lebih dari 20 tahun selalu menolak diwawancarai, MJ mengaku kehilangan masa kecilnya. Memulai karir bersama kakak-kakaknya di Jackson 5 dalam umur 10 tahun, tiada hari tanpa latihan dan rekaman sampai larut malam dengan hanya tiga jam home schooling. Belum lagi berbagai tur dan konser karena mereka sangat terkenal pada masa itu. Dia tidak punya teman, apalagi kesempatan bermain.

Ayah MJ sangat keras padanya dan kakak-kakaknya. Aku pernah mendengar bahwa hukuman fisik diterima sebagai hal yang wajar saat itu untuk anak-anak laki-laki Afro-Amerika, untuk menghindarkan mereka dari tindakan kriminal dan salah pergaulan. Tapi itu tidak wajar bagi MJ yang mungkin sangat sensitif. Lengkaplah rasa kehilangan masa kecil yang membuatnya makin ingin mengeksplorasi dunia anak-anak.

Maka lahirlah Neverland, sebuah taman ria lengkap dengan bianglala, komidi putar, bahkan kebun binatang dan gedung teater. Menariknya, teater itu dilengkapi beberapa tempat tidur khusus untuk anak-anak pasien terminal, sehingga mereka bisa menonton film atau atraksi tanpa harus bangun dari tempat tidur. Kepada Oprah, MJ mengaku membangun Neverland bagi dirinya sendiri dan anak-anak, terutama yang sakit parah karena mereka juga pasti kehilangan kesempatan bermain.

Aku tidak tahu seberapa akurat rumor-rumor aneh yang beredar tentang MJ selama hidupnya, bahkan setelah dia meninggal, tapi aku hanya melihat orang biasa dengan bakat luar biasa yang menjalani hidupnya dengan cara yang di luar kebiasaan. Maka dari itulah dia tampak aneh, dan publik, terutama media massa, berusaha melogikakan ke”aneh”an itu dengan macam-macam dugaan dan tuduhan.

Tapi anak-anaknya semua begitu mencintai MJ dan mengatakan dia adalah Ayah terbaik di dunia. Pada kenyataannya, dia banyak terlibat dalam misi-misi kemanusiaan, seperti mengaransemen lagu legendaris We Are the World bersama Lionel Richie, Stevie Wonder, dan Quincy Jones untuk bencana kelaparan di Afrika pada tahun 1985, misalnya.

Ketika Neverland ditutup pada tahun 2006 karena almarhum MJ didera tuntutan hukum, waktu itu aku merasa dunia begitu kejam. Saat ini, banyak sekali penyanyi bersuara seadanya, lirik lagu norak dan vulgar, dengan lebih banyak pelanggaran hukum, tidak mendapatkan perlakuan berlebihan seperti yang didapatkan MJ. Entah kenapa, rasanya kalau membandingkan dengan karya-karya monumental dan inspiratif MJ, sebut saja Heal the World dan Earth Song yang menggerakkan begitu banyak orang di seluruh dunia… sepertinya ada yang tidak adil.

Menurutku, dia hanya seorang dewasa yang begitu bergantung pada jiwa kanak-kanaknya, seperti Peter Pan di Neverland yang tidak akan pernah bisa menjadi “dewasa”. Barangkali, berita-berita aneh dan stigma yang didapatkannya adalah buah dari sifat alaminya yang usil, jahil, walaupun kemungkinan besar dia tidak melakukannya karena niat jahat, tapi lebih karena sifat polos anak-anak yang tidak paham konsekuensi. Was it wise, though? No, not at all. 

Tapi mungkin seperti itulah jalan hidup yang harus terjadi pada seorang Michael Jackson. Jika dia tidak merasa kehilangan masa kecilnya dan berusaha sedemikian keras merintis karir dari usia belia, lengkap dengan segala kontroversinya, Michael Jackson dan karya-karyanya yang abadi itu tidak akan pernah ada.

 

[#J3] Shodou: Garis-garis Filosofis

20190126_164244“Menulis” dengan kuas akan menjadi bencana jika tidak terbiasa. Kalau terlalu rajin mencelupkan kuas ke tinta, garisnya akan menjadi terlalu tebal belepotan atau tintanya bertetesan tidak karuan. Kalau pelit tinta, garisnya tidak akan rata dan kuasnya terasa kasar dan berat saat disapukan ke kertas.

Sensasi-sensasi aneh itu bermunculan ketika aku mencoba Shodou, atau kaligrafi Jepang untuk pertama kalinya. Hasil akhirnya sih, bagus untuk ukuran pemula yang tidak pernah mencoba kaligrafi, kata guruku. Tapi buatku rasanya tidak terlalu memuaskan.

Shodou adalah gabungan banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan, dengan hasil yang sangat sederhana bagi mata orang awam. Hasil yang kelihatannya sama sekali tidak mencerminkan keruwetan dan kepayahan proses pembuatannya.

Apakah kuasnya tidak nyaris kering tapi juga tidak terlalu basah, sehingga tintanya terlalu tebal? Apa kertasnya ada di bidang rata? Kanji-nya apa tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil? Jika Kanjinya adalah gabungan dua atau lebih karakter, apakah mereka ada dalam komposisi yang pas, imbang, dan terpusat tengahnya? Kapan kuasnya harus dibelokkan atau diangkat? … dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang bermunculan di kepalaku saat mengerjakan dua kaligrafi tadi.

Setidaknya, aku harus mengulang 7-8 kali untuk mendapatkan satu saja hasil yang lumayan. Berlatih membuat satu garisnya saja bisa 10 kali. Berdiri selama satu jam, sedikit membungkuk dan mengulang-ulang goresan yang sama ternyata menyiksa punggung, capek sekali.

Tapi, bukankah hidup itu juga seperti Shodou? Banyak hal-hal yang harus kita ulangi, ditelateni untuk mendapat hasil yang baik. Kadang, sering juga upaya tidak dihargai, seperti juga hasil kaligrafi yang tampak begitu-begitu saja.

Dengan segala keruwetan yang ada, bagiku, sangat sukar sekali mengerjakan Shodou dengan setelan “no mind”. “No mind” adalah kondisi ideal dalam setiap seni Jepang, atau bahkan dalam hidup. Ketika gak kakehan mikir, atau mulai terbiasa, hasilnya kadang justru memuaskan. Dibutuhkan kesabaran dan telaten, memang, untuk menjalani banyak hal dalam hidup.

Walaupun tidak segampang itu dilaksanakan, berbahagialah orang-orang yang sabar, telaten, dan setia kepada proses, karena aku percaya, merekalah yang akan banyak menikmati hasil baik dalam hidupnya.

[#J2] Kanji, Kana, dan Kepraktisan

Yang pernah belajar bahasa Jepang pasti tahu kalau Kanji Jepang berasal dari Hanzi Cina. Tapi yang paling menarik adalah: orang Jepang kemudian membuat dua sistem “alfabet turunan” dari Kanji, yaitu Hiragana dan Katakana. Buat apa?

Alasan mengembangkan aksara-aksara itu digambarkan dengan baik melalui cerita terciptanya Katakana, alias tulisan laki-laki. Disebut seperti itu karena banyak menggunakan sudut, siku, dan terlihat lebih tegas dari Hiragana yang “bulat”. Saat ini, Katakana kebanyakan digunakan untuk menulis istilah yang diambil dari bahasa Inggris, misalnya energy yang dalam ejaan Jepang menjadi e/ne/ru/jii (エナジー), atau nama negara asing, misalnya Indonesia yang menjadi i/n/do/ne/shi/a (インドネシア).

20190119_170811Walaupun demikian, pada awalnya, Katakana berkembang dari sebuah sistem kode sebagai cara simplifikasi yang cepat dan menghindari kecapekan. Maksudnya?

Jaman dahulu, biksu-biksu Buddha wajib belajar sastra Buddhis klasik, dan membuat catatan kaki atau arti kata-kata asing dari pelajaran yang dibacakan oleh biksu kepala mereka. Kala itu, Kanji digunakan juga untuk menulis suku kata, misal A, I, U, E, O.  Bayangkan, betapa njarem alias pegelnya tangan biksu-biksu itu kalau huruf A saja harus ditulis dengan banyak garis, apalagi kalau gurunya mendikte dengan cepat.

Apa yang dilakukan para biksu itu supaya tidak terlalu capek atau ketinggalan dalam mencatat? Mereka kemudian hanya mengambil beberapa garis dari Kanji yang mewakili tiap suku kata tersebut. Seperti pada gambar, garis-garis yang berwarna merah dari sebuah karakter Kanji di bagian kanan itulah yang diambil sebagai “kode huruf” oleh para biksu itu. Jadilah Katakana di bagian kiri.

Praktis. Itulah yang juga menjadi ciri khas Jepang. Contoh, mie instan pertama di dunia diciptakan di Jepang pada tahun 1958 dengan teknik flash frying, sebenarnya ditujukan untuk membuat mie dapat awet selama beberapa waktu karena keterbatasan bahan pangan pada waktu itu, dan cepat saji (tuang air panas dan diamkan selama 3 menit). Lagi-lagi, praktis dan menghindari kecapekan menjadi kunci di sini.

Demikianlah, terjadinya Katakana (juga Hiragana) terilhami dari kebutuhan akan suatu sistem yang cepat dan praktis. Kebutuhan itu, disadari atau tidak, mendorong inovasi alias temuan baru yang unik, alias Jepang banget. Walaupun sampai saat ini, saya masih berpikir, apa ya, yang bisa menghasilkan inovasi yang Indonesia banget?

 

Tinjauan Pustaka:

  1. Wolfgang, H., and Spahn, M. (1997) Japanese Kanji and Kana – A Guide to Japanese Writing System. Tuttle Publishing.

 

[#J1] Ikebana: Harmoni Bunga dan Ranting

Undian nomor 19 itu berhadiah nyleneh: tiket les privat gratis. Sementara, para pemenang undian lain di acara Rengo Mitakai (peringatan ulang tahun Keio University) yang ke-160 mendapatkan setelan jas sutera, tiket liburan, robot vacuum cleaner, jam tangan bertatahkan berlian, atau bahkan mobil. Lha saya dapat les privat.

Dengan sedikit ogah-ogahan, aku memilih kelas-kelas seni Jepang: Kanji, Kaligrafi, Ikebana atau seni merangkai bunga, dan Cha-no-yu atau upacara minum teh. Sudah lama aku tidak mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan seni. Ditambah lagi aku masih asing dengan seni Jepang, terutama Ikebana.

Mudah-mudahan bungaku tidak norak seperti dangdut koplo Pantura, pikirku. Tapi mumpung berada di Jepang dan dapat guru native, kenapa tidak? Mungkin awalnya guru privatku pun sedikit skeptis. Biasanya orang teknik sering dianggap kaku dan nggak paham seni, kan? Gaijin pula (dari gaikoku jin = orang asing).

whatsapp image 2019-01-14 at 5.24.31 pmTapi entah kenapa pada kelas pertama, beliau menyukai rangkaian bungaku, padahal aku zakelijk menuruti pedoman pemula: bunga terpanjang adalah 1,5x panjang atau lebar vas, bunga kedua 2/3 panjang bunga pertama, dan bunga ketiga 1/3 bunga pertama.

Pada kelas kedua, guru privatku membawakan bunga-bunga khas tahun baru Jepang. Kalau pada percobaan pertama susunannya tegak, kali ini aku diminta membuat susunannya sedikit rebah. Lagi-lagi beliau menyukainya, dan aku pun mulai menyukai seni yang unik ini.

Di rumahku, aku sering membantu merangkai mawar atau mengurus bunga sedap malam. Tapi, jika rangkaian bunga gaya barat cenderung memberi fokus ke bunganya, dalam Ikebana, bisa jadi bagian utamanya adalah ranting atau bahkan ilalang, sementara bunganya hanya pemanis. Dalam kesehariannya, memang ada kebiasaan orang Jepang yang tidak menyia-nyiakan apapun. Daun-daun yang aku gunting dari tangkai bunga ternyata juga bisa dipakai untuk memenuhi sisi-sisi rangkaian bunga.

Ikebana adalah ekspresi Jepang yang sangat terukur karena panjang bunganya pun memakai rumus. Formasi bunganya pun, jika dilihat dari atas, dianjurkan berbentuk segitiga sembarang. Jika dipandang sepintas, rangkaian bunga dalam Ikebana akan terlihat abstrak, semua-ada-di-situ, tapi teratur. Seni yang menurutku sangat matematis, karena matematika adalah kemampuan menangkap pola dari keadaan tidak terpola, kata Mbah Sujiwo Tejo.

Walaupun pada kehidupan sehari-hari aku lebih sering menemui orang Jepang yang bersikukuh menahan diri mengungkapkan pendapat jika itu dipandang akan mengganggu harmoni, menurutku, Ikebana adalah jiwa Jepang yang menghargai perbedaan. Selain keberagaman yang presisi tapi tidak kaku dan enak dipandang mata itu, barang yang sepele seperti ranting dan ilalang pun bisa menjadi “tokoh utama”. Ah, seandainya kita bisa untuk tidak memandang remeh orang lain seperti itu, berapa banyak orang yang akan muncul dan bersinar seperti bintang?

[Paragames 2018 #8] Memunculkan Prestasi

Sebagian atlet Indonesia di Asian Para Games 2018 dulunya mempunyai fisik “normal”. Beberapa mengalami kecelakaan sehingga harus diamputasi anggota badannya, atau ada juga yang pelan-pelan terdegradasi indera penglihatannya. Ada juga yang terkena penyakit yang menyebabkan kelumpuhan, polio misalnya.

APG2018_buled08

Walaupun sempat terpuruk, mereka ada di kancah olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade ini sebagai pahlawan.  Sebab utamanya pasti untuk mengekspresikan diri mereka: kehilangan fungsi anggota badan tidak berarti kehilangan tujuan ataupun daya dalam hidup mereka. Mereka tidak hanya berhasil menunjukkan jati diri dan semangat mereka, tapi melesat jauh ke atas.

Dalam perhelatan Asian Para Games 2018, banyak sekali atlet Indonesia yang mendapatkan lebih dari satu medali, bahkan dobel atau tripel medali emas. Banyak juga atlet-atlet negara lain, Uzbekistan contohnya, yang memecahkan rekor Asia maupun dunia. Sepertinya di ajang Asian Games 2018 yang baru lewat sekalipun, jumlah rekor yang dipecahkan tidak sebanyak gelaran Para Games. Jumlah medali kontingen Indonesia  pun melebihi perolehan medali pada Asian Games.

Sebagai bangsa, Indonesia layak berbangga bahwa selain menjadi tuan rumah pesta olahraga empat tahunan ini, kita juga pastinya telah memberikan wadah dan atmosfir yang sesuai untuk prestasi-prestasi luar biasa dari manusia-manusia super ini untuk terwujud. Percayalah, jika suasana tidak mendukung, orang paling berbakat sekalipun bisa mlempem alias tidak produktif.

Lalu, apakah kita sebagai manusia Indonesia juga siap untuk mendukung orang-orang di sekitar kita yang memiliki bakat, baik itu difabel maupun tidak, untuk menunjukkan potensi diri mereka? Masih ada orang yang mencoba menjatuhkan orang-orang yang memiliki talenta karena rasa iri. Masih ada keluarga-keluarga yang menyembunyikan saudara atau anak mereka yang difabel karena dianggap sebagai aib. Beranikah kita mengambil sebuah sikap untuk mengesampingkan emosi-emosi negatif karena kekurangan kita atau ketidakmampuan kita meraih sesuatu, dan menggunakan energi yang ada untuk menyokong mereka yang punya kemampuan untuk berprestasi? Inilah tema besar episode ke-8 sekaligus pamungkas seri komik Asian Para Games 2018 dariku, dengan bantuan yang luar biasa dari NaoBun Project.

Mari menjadi pendukung terhebat untuk para calon-calon juara di sekitar kita!

[Paragames 2018 #6 & 7] Memotivasi

Kemampuan memberi motivasi itu tidak selalu harus berasal dari kemampuan mengeluarkan kata-kata bijak lewat lidah maupun tulisan. Kadang, banyak orang termasuk saya yang terjebak dalam pikiran bahwa karena mampu berkata-kata bijak dan “positif”, kita sudah sah menjadi orang paling alim sedunia. Padahal, motivasi yang sempurna tidak berhenti di situ saja.

Padahal, sering sekali kalau kita mau jeli melihat sekitar, motivasi justru kita dapatkan dalam diam. Aku sering menjadi lebih bersemangat ketika melihat mahasiswa-mahasiswa yang bekerja sampai larut malam di laboratorium dan “berserakan” tidur di lantai karena lelah. Atau nenek-nenek dan kakek-kakek yang meskipun telah lanjut usia tetap dengan senyum dan ikhlas berdagang di pasar, di pinggir jalan, maupun menjadi sopir taksi atau usaha lainnya.

APG2018_buled06-horz

Komik seri Asian Para Games edisi ke-6 dan 7 yang diterbitkan di harian Kompas tanggal 12 dan 15 ditulis dengan latar belakang ide bahwa motivasi itu tidak sekedar kata-kata, tapi yang terpenting adalah teladan. Motivasi itu akan terasa lebih kuat jika datang dari usaha keras orang-orang yang awalnya diremehkan atau dicap “tidak mampu”, seperti atlet-atlet difabel pada umumnya.

Pesan yang paling ampuh adalah pesan yang tidak sekedar disampaikan dengan kata-kata, melainkan dari perbuatan nyata. Alangkah baiknya jika kemudian, kita yang dikaruniai tubuh yang “sempurna” juga menyempurnakan upaya kita. Janganlah kalah dengan kawan-kawan yang memiliki keterbatasan, tapi ternyata mampu membangkitkan semangat dalam dirinya.